PEMBELAJARAN
ABAD 21
Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang
mempersiapkan generasi abad 21 dimana kemajuan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) yang berkembang begitu cepat memiliki pengaruh terhadap
berbagai aspek kehidupan termasuk pada proses belajar mengajar. Salah satu
contoh kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki pengaruh terhadap
proses pembelajaran ialah peserta didik diberi kesempatan dan dituntut untuk
mampu mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan
komunikasi – khususnya komputer, sehingga peserta didik memiliki kemampuan
dalam menggunakan teknologi pada proses pembelajaran yang bertujuan untuk
mencapai kecakapan berpikir dan belajar peserta didik.
Selain itu, sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu
peralihan pembelajaran dimana kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut
sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher-centered learning) menjadi pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning).
Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan dimana peserta didik harus
memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan-kecakapan tersebut
diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis,
kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh
peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang
berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis
dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja
sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang
dibuatnya.
Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik berbeda dengan
pembelajaran yang berpusat pada pendidik, Pada kurikulum
2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang
semakin kompetitif, berikut karakter pembelajaran abad 21 yang sering
disebut sebagai 4 C, yaitu: Communication (Komunikasi), Collaboration (Kerjasama), Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan
Masalah), Creativity and
Innovation (Daya cipta
dan Inovasi).
Hidayat & Pat ras 3 menjelaskan
kebutuhan pendidikan abad 21 menurut Patrick Slattery dalam bukunya
yang berjudul “Curriculum Development In
The Postmodern” yaitu pendidikan yang berdasarkan pada
beberapa konsep berikut:
1. Pendidikan harus diarahkan pada
perubahan sosial, pemberdayaan komunitas, pembebasan pikiran, tubuh dan spirit
(mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dorothy}
2. Pendidikan harus berlandaskan pada 7
hal utama (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh}, yaitu
tidak terikat pada teori, ideology, dan agama; jangan berpikir sempit bahwa
pengetahuan yang dimiliki adalah yang paling bena r; tidak memaksakan kehendak
pada orang lain baik dengan kekuasaan, ancaman, propaganda maupun pendidik an;
peduli terhadap sesame; jangan memelihara kebencian dan amarah; jangan
kehilangan jatidiri; jangan bekerja di tempat yang menghancurkan manusia dan
alam.
3. Konteks pembelajaran, pengembangan
kurikulm dan penelitian diterapkan sebagai kesempatan untuk menghubungkan siswa
dengan alam semesta (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh David Ort)
4. Membuat guru merasa sejahtera dalam
kegiatan pembelajaran (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dietrich
Bonhoeffer)
TANTANGAN
GURU ABAD 21
Guru pada abad 21 dan abad selanjutnya ditantang untuk
melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi.
Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan
dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan guru di abad
21, yaitu :
1.
Teaching
in multicultural society,
mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi
bahasa.
2.
Teaching
for the construction of meaning,
mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep).
3.
Teaching
for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.
4.
Teaching
and technology, mengajar dan teknologi.
5.
Teaching
with new view about abilities,
mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.
6.
Teaching
and choice, mengajar dan pilihan.
7.
Teaching
and accountability, mengajar dan akuntabilitas.
Lebih
lanjut, Yahya (2010) menambahkan tantangan guru di Abad 21 yaitu:
1.
Pendidikan yang berfokus pada character building
2.
Pendidikan yang peduli perubahan
iklim
3.
Enterprenual mindset
4.
Membangun learning community
5.
Kekuatan bersaing bukan lagi
kepandaian tetapi kreativitas dan kecerdasan bertindak (hard skills- soft skills).
Guru
yang mampu menghadapi tantangan tersebut adalah guru yang profesional yang
memiliki kualifikasi akademik dan memiliki kompetensi-kompetensi antara lain
kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan
kompetensi sosial yang kualifaid.
a. Kompetensi profesional
Kompetensi profesioanal
sekurang-kurangnya meliputi :
1.
Menguasai subtansi bidang studi dan
metodologi keilmuannya
2.
Menguasai struktur dan materi
kurikulum bidang studi
3.
Menguasai dan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
4.
Mengorganisasikan materi kurikulum
bidang studi
5.
Meningkatkan kualitas pembelajaran
melalui penelitian tindakan kelas
b. Kompetensi pedagogik
Kompetensi
pedagogik sekurang-kurangnya meliputi:
1.
Memahami karakteristik peserta didik
dari aspek fisik, sosial, kultural, emosional, dan intelektual
2.
Memahami latar belakang keluarga dan
masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya
3.
Memahami gaya belajar dan kesulitan
belajar peserta didik
4.
Memfasilitasi pengembangan potensi
peserta didik
5.
Menguasai teori dan prinsip belajar
serta pembelajaranYang mendidik
6.
Mengembangkan kurikulum yang
mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran
7.
Merancang pembelajaran yang mendidik
8.
Melaksanakan pembelajaran yang
mendidik
9.
Mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran
c. Kompetensi
kepribadian
Kompetensi
kepribadian sekurang-kurangnya meliputi:
1.
Menampilkan diri sebagai pribadi
yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
2.
Menampilkan diri sebagai pribadi
yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat
3.
Memiliki sikap, perilaku, etika,
tata cara berpakaian, dan bertutur bahasa yang baik
4.
Mengevaluasi kinerja sendiri
5.
Mengembangkan diri secara
berkelanjutan
d. Kompetensi sosial
Kompetensi
sosial sekurang-kurangnya meliputi:
1.
Berkomunikasi secara efektif dan
empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan dan masyarakat
2.
Berkontribusi terhadap pengembangan
pendidikan di sekolah dan masyarakat
3.
Berkontribusi terhadap pengembangan
pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional dan global
4.
Memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri
5.
Memiliki sikap, perilaku, etika,
tata cara berpakaian dan bertutur bahasa yang baik
Guru yang profesional selain
memiliki empat kompetensi tersebut di atas, menurut Prof.Dr.Haris Supratno memiliki ciri-ciri profesional
sebagai berikut.
1.
Memiliki wawasan global holistik
2.
Memiliki daya ramal ke depan
3.
Memiliki kecerdasan, kreatifitas dan
Inovasi
4.
Memiliki kemampuan bermasyarakat
5.
Menguasai IPTEK
6.
Memiliki jiwa dan wawasan
kewirausahaan
7.
Memiliki akhlakul karimah
8.
Memiliki keteladanan
9.
Bekerja secara efisien dan efektif
10. Menguasai bahasa asing
PERANAN
GURU ABAD 21
Tuntutan dunia internasional terhadap tugas guru memasuki
abad ke-21 tidaklah ringan. Guru diharapkan mampu dan dapat menyelenggarakan
proses pembelajaran yang bertumpu dan melaksanakan empat pilar belajar yang
dianjurkan oleh Komisi Internasional UNESCO untuk Pendidikan, yaitu :
§ learning to know
§ learning to do
§ learning to be
§ learning to live together
Jika dicermati keempat pilar tersebut menuntut seorang guru
untuk kreatif, bekerja secara tekun dan harus mampu dan mau meningkatkan
kemampuannya. Berdasarkan tuntutan tersebut seorang guru akhirnya dituntut
untuk berperan lebih aktif dan lebih kreatif.
1.
Guru tidak hanya menguasai ilmu
pengetahuan sebagai produk, tetapi terutama sebagai proses. Dia harus memahami
disiplin ilmu pengetahuan yang ia tekuni sebagai ways of knowing. Karena
itu lebih dari sarjana pemakai ilmu pengetahuan tetapi harus menguasai
epistimologi dari disiplin ilmu tersebut.
2.
Guru harus mengenal peserta didik
dalam karakteristiknya sebagai pribadi yang sedang dalam proses perkembangan,
baik cara pemikirannya, perkembangan sosial dan emosional, maupun perkembangan
moralnya.
3.
Guru harus memahami pendidikan
sebagai proses pembudayaan sehingga mampu memilih model belajar dan sistem
evaluasi yang memungkinkan terjadinya proses sosialisasi berbagai kemampuan,
nilai, sikap, dalam proses memperlajari berbagai disiplin ilmu.
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang
peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi
pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan
dari sudut pandang psikologis.
§ Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan
administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
1.
Pengambil inisiatif, pengarah, dan
penilai pendidikan
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya
guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam
pendidikan.
3.
Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu
menguasai bahan yang harus diajarkannya.
4.
Penegak disiplin, yaitu guru harus
menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin.
5. Pelaksana administrasi pendidikan,
yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
6. Pemimpin generasi muda, artinya guru
bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi
muda yang akan menjadi pewaris masa depan.
7.
Penterjemah kepada masyarakat, yaitu
guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi kepada masyarakat.
§ Di pandang dari segi diri pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :
1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang
yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan
penguasaan keilmuannya.
3.
Orang tua, artinya guru adalah wakil
orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah.
4. Model keteladanan, artinya guru
adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik.
5. Pemberi keselamatan bagi setiap
peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan
gurunya.
§ Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai
:
1. Pakar psikologi pendidikan, artinya
guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu
mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
2. Seniman dalam hubungan antarmanusia
(artist in human relations), artinya guru adalah orang
yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antarmanusia, khususnya
dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.
3.
Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu membentuk atau menciptakan
kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Catalyc agent atau inovator, yaitu
guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat
suatu hal yang baik.
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab
bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Dari uraian di atas, ada beberapa
hal yang akan di jadikan bahan diskusi:
1. Apakah metode yang diterapkan dalam
kurikulum 2013 sudah tepat sasaran untuk pembelajaran abad 21 ?
2. Bagaimana
mengatasi hambatan yang ditemui dalam pembentukan karakter peserta didik?
3. Literasi
sering sekali dijadikan sebagai salah satu cara untuk menghadapi pendidikan
abad 21, jika dilihat dari segi efisiensi, bisa jadi itu salah satu solusi,
bagaimana dari segi efektifitasnya?
REFERENSI:
https://silabus.org/kompetensi-guru-abad-21/
Hallo ibu reni, salam hangat
BalasHapusSaya ingin nemaparkan jwaban pada point 2, mungkin hambatan yang ditemukan dlm pembentukan karakter pada peserta didik di abad 21 dgn berbagai macam perkembangan tekhnology yaitu : Peserta didik slalu berketergantungan dgn teknology, misalnya tugas dsb slalu terpaku pada internet/google yg tdk jlas sumber dan penulisnya (exc.web book). Belum lgi terpengaruh oleh sosial media yg dpat membuat peserta didik malas belajar dan membuka buku, ataupun mengulas kembali KBM yg tlah dipelajari d skolah.
Terimakasih.
Saya tertarik untuk menjawab permasalahan nomor 3 mengenai efektitas nya..
BalasHapusLiterasi adalah hal penting dan sangat dituntut untuk menunjang pembelajaran abad 21. Menurut saya belum efektif, karena keterbatasan fasilitas buku buku sumber disekolah
Salah satu pendekatan yg sangat ditekankan didalam kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik yg menggunakan tahapan 5M, saya rasa hal ini sangat erat kaitannya dg pembelajaran abad 21 yg mengarahkan ke pemakaian TIK dan 4C. Literasi yg juga merupakan salah satu kegiatan yg wajib dilaksanakan didalam k13 dapat lebih dioptimalkan, namun terkadang kurang efektif karena kurangnya sarana pendukung salah satunya adalah buku siswa..
BalasHapusTerima kasih reni utk artikel ini...
Sangat bermanfaat
saya sangat setuju dengan pendapat saudari Vira Idayesi. kurikulum 2013 sangat bagus dalam konsepya. namun pada pelaksanaannya masih banyak dijumpai kendala sehingga proses pembelajaran belum sesuai dengan pendekatan yang diharapkan
HapusBaik saya akan menambahkan pembahasan nomor 1, dalam pembelajaran abad 21 sumber belajar bersumber dari berbagai sumber, terutama memanfaatkan perkembangan teknilogi. pada k13, siswa diharapkan berperan aktif dan guru bertindak sebagai fasilitator tidak lagi menjadi sumber utama dalam mentrasfer ilmu, jadi saya kira k13 sangat tepat, tapi masih perlul ada perbaikan pada proses pembelajaran agar tepat sasaran.
BalasHapusSaya sependapat dengan apa yang di paparkan sdri humairah ..
Hapuspertanyaan no 1. menurut saya sudah karena pembelajaran saat ini adalah berpusat pada siswa(guru hanya sebagai fasilitator)
BalasHapusmenurut saya k 13 sudah sangat tepat sekali dan relevan dengan pemebaljaran abad 21, karena seperti yang kita ketahui bahawa kurikulum 2013 lebih menekankan ada konsep 5M yng dilakukan oleh siswa (saintifik) dan berorientasi sepenhunya pada siswa, guru hanya fasilitator. hal ini sangat sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad 21 saat ini
BalasHapusterima kasih
artikelnya santa bagus
sangat bermanfaat
Artikel yang sangat menarik saudari Reni. Apakah metode yang diterapkan dalam kurikulum 2013 sudah tepat sasaran untuk pembelajaran abad 21 ? Secara teori sudah tepat sasaran hanya saja terkadang dalam pelaksanaan yang belum efektif. Terima kasih
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 2 tentang cara mengatasi hambatan yang ditemui dalam pembentukan karakter peserta didik yaitu guru harus tahu cara menilai siswa yang memiliki karakteristik yang berbeda dan tingkat kemampuannya juga berbeda.
BalasHapus