Kamis, 08 November 2018

Model Pembelajaran Quantum


MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM

       Pada hakikatnya, pembelajaran adalah usaha sadar bagi seorang guru untuk membelajarkan peserta didiknya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Trianto, 2012).Untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu diperlukan model-model pembelajaran. Selanjutnya Trianto (2012) menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar untuk merencanakan aktivitas pembelajaran.
       Model pembelajaran quantum menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses pembelajaran lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah. Dengan menggunakan model pembelajaran quantum kita dapat menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pembelajaran yang akan meningkatkan hasil belajar peserta didik (Deporter, 2010).

2.1  Pengertian Model Pembelajaran Quantum
          Istilah “Quantum” dapat diartikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya (Deporter,2010). Pembelajaran Quantum merupakan istilah terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Menurut Deporter, dkk (2010), quantum learning adalah penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain.
            Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Deporter, dkk, 2010).Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan peserta didik.
          Pembelajaran quantum merupakan model pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan, interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar. Menurut Deporter, ddk (2010), pembelajaran quantum hampir sama dengan sebuah simfoni yang di dalamnya banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman yang mewarnai hasil akhir yang indah.  
            Tujuan pembelajaran quantum adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Menurut Shoimin, (2014), di dalam pembelajaran quantum dikenal adanya Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR, diantaranya
1.  Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini, guru berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar.
2.  Alami
Alami merupakan tahap ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti semua siswa.
3.  Namai
Tahap namai merupakan tahap memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati.
4.  Demonstrasikan
Tahap demontrasi memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan mereka.
5.  Ulangi
Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam..
6.  Rayakan
Rayakan merupakan wujud pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi bersama.

2.2         Azas Utama Model Pembelajaran Quantum
          Menurut Deporter (2010), azas utama pembelajaran quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud dari konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka adalah bahwa pentingnya memasuki dunia peserta didik sebagai langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
          Memasuki dunia peserta didik dapat dilakukan dengan membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka. Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam konteks inilah materi pembelajaran dipaparkan, misalnya: kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain.

2.3  Karakteristik Model Pembelajaran Quantum
Budiman (2013) menuliskan beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok Quantum Learning sebagai berikut:
1.   Berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum.
2.   Lebih bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal.
3.   Lebih bersifat konstruktivistis, nuansa konstruktivisme dalam Quantum Learning relatif kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning merupakan salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial.
4.   Berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
5.   Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
6.   Sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum.
7.   Sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan.
8.      Quantum Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai.
9.   Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
10. Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material.
11. Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna.
12. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi.
13. Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.

2.4  Prinsip Model Pembelajaran Quantum
Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni. Dalam Shoimin (2014) prinsip-prinsip yang digunakan dalam pembelajaran Quantum ada 5 macam:
1.    Segalanya berbicara
Segala hal baik itu dari lingkungan kelas/sekolah hingga bahasa tubuh guru maupun siswa, lembar kerja yang dibagikan kepada siswa hingga rancangan pembelajaran, semua mengirim pesan tentang belajar dan mencerminkan pembelajaran yang dilaksanakan. Cara guru dalam bersikap pada setiap siswa ternyata juga mempengaruhi minat belajar siswa, siswa akan cenderung malas untuk mengikuti pelajaran karena secara emosional mereka merasa diperlakukan berbeda-beda oleh guru mereka. Untuk meredam hal tersebut diharapkan pada guru untuk senantiasa bersikap sama pada semua siswa, karena tentunya semua siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Guru hendaknya juga harus mampu memahami emosi setiap siswanya.
2.    Segalanya bertujuan
Hal ini mengandung arti bahwa semua upaya yang dilakukan oleh guru dalam menggubah dan mengelola kelas mempunyai tujuan, yaitu agar siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai prestasi yang tertinggi.
3.    Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar paling efektif terjadi ketika siswa telah mengalami dan memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang akan dipelajarai sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
4.    Akui setiap usaha
Setiap mengambil langkah belajar, siswa perlu mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka baik itu berupa pujian atas usaha mereka ataupun ungkapan penyemangat.
5.    Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan
Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya. Merayakan kerja keras siswa dalam belajar akan mendorong siswa memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali peoses belajar mereka sendiri.

2.5.  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum
Langkah-langkah dari pembelajaran Quantum:
1.    Pengkondisian awal
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa mengenai model pembelajaran kuantum yang menuntut keterlibatan aktif siswa.
2.    Penyusunan rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan dengan tahap persiapan dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama proses belajar mengajar, dan penyusunan evaluasi.
3.    Pelaksanaan metode pembelajaran kuantum
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran kuantum. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R: penumbuhan minat, pemberian pengalaman umum, penamaan atau penyajian materi, demonstrasi tentang pemerolehan pengetahuan oleh siswa, pengulangan yang dilakukan oleh siswa, perayaan atas usaha siswa.
1)   Penumbuhan minat (T= Tumbuhkan minat)
2)   Pemberian pengalaman umum (A= Alami)
3)   Penamaan atau penyajian materi  (N= Namai)
4)   Demonstrasi pengetahuan siswa (D = Demonstrasi)
5)   Pengulangan yang dilakukan oleh siswa (U = Ulangi)
6)   Perayaan atas usaha siswa (R = Rayakan)
4.    Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses dan produk untuk melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan. Langkah- langkah pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan dilaksanakan dengan tahap- tahap:
1). Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan
2). Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode   ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
3). Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi..
4). Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan siswa dan mengambil kesimpulan.
6).  Guru mengadakan evaluasi.

2.6.Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Quantum
Shoimin (2014), menuliskan kelebihan dan kekurangan dari model quantum yaitu:
Kelebihan model quantum:
1.    Dapat membimbing peserta didik kearah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2.    Karena lebih melibatkan siswa, saat proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
3.    Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4.    Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5.    Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyelesuaikan antar teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
6.    Karena membutuhkan kreatifitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
7.    Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

Kekurangan model quantum:
1.    Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
2.    Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3.    Karena adanya perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa, baik berupa tepuk tangan, jentikan jari dan nyanyian dapat mengganggu kelas lain.
4.    Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5.    Memerlukan keterampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
6.    Diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

2.7.Penerapan/Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam Pembelajaran Sains
Terdapat strategi pembelajaran quantum, sebelum mengetahui strategi pembelajaran Quantum Learning, siswa harus bisa menentukan gaya belajarnya sendiri. Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi. Terdapat tiga gaya belajar atau yang disebut dengan modalitas belajar, yaitu sebagai berikut:
1.      Visual
Gaya belajar visual adalah belajar dengan cara melihat. Siswa dengan gaya belajar visual akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media visual seperti poster, gambar-gambar, video, dan lain sebagainya.
2.      Auditorial
Gaya belajar auditorial adalah belajar dengan cara mendengar. Siswa dengan gaya belajar auditorial akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media audio seperti mendengarkan cerita, mendengarkan kaset, ceramah, diskusi, dan lain sebagainya.
3.      Kinestetik
Gaya belajar kinestetik adalah belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Siswa dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui praktek-praktek atau praktikum.

Dari uraian di atas, ada beberapa hal yang dapat di jadikan bahan diskusi:
  1. Apakah semua guru mampu menerapkan model pembelajaran quantum?
  2. Bagaimana cara penerapan model pembelajaran quantum pada proses pembelajaran? 
  3. Apakah model pembelajaran quantum cukup efektif dalam menjembatani proses e pembelajaran Sains agar berjalan dengan maksimal?

REFERENSI
Deporter, B,; Reardon,M,; Singer-Nauri, S. 2010. Quantum Teaching: mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa.

Shoimin, A. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.

Triyani. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran TANDUR dalam meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa MTs YAPI Pakem Sleman Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.



Jumat, 19 Oktober 2018

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA


SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA
Proses penilaian adalah alat yang efektif  untuk mengkomunikasikan harapan  sistem pendidikan IPA untuk semua pihak yang terkait dengan pendidikan IPA. Praktek penilaian dan kebijakan memberikan definisi operasional  apa yang penting untuk dilakukan. Misalnya, penggunaan  dari proses penyelidikan/inquiri untuk penilaian  tugas siswa dari apa yang sedang dipelajari, bagaimana guru mengajar, dan dimana sumber daya  yang harus dialokasikan.
Penilaian adalah sistematis, proses tahapan yang melibatkan pengumpulan dan interpretasi data pendidikan. Standar penilaian meliputi empat komponen dapat dikombinasikan dalam berbagai cara. Misalnya, guru menggunakan data prestasi siswa untuk merencanakan dan memodifikasi praktik pengajaran. Berbagai kegunaan, pengguna, metode, dan data berkontribusi terhadap kompleksitas dan pentingnya penilaian proses.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Penilaian merupakan tahapan penting dalam proses pembelajaran. Penilaian dalam pembelajaran sains dapat dimaknai sebagai membawa konten, proses sains dan sikap ilmiah secara bersama-sama. Penilaian dilakukan terutama untuk menilai kemajuan siswa dalam pencapaian keterampilan proses sains.
Menurut Smith dan Welliver, pelaksanaan penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya:
1.      Pretes dan postes.  Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing siswa dalam keterampilan yang telah diidentifikasi. Pada akhir tahun sekolah, guru melaksanakan tes kembali untuk mengetahui perkembangan skor siswa setelah mengikuti pembelajaran sains.
2.      Diagnostik. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada bagian mana siswa memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru merencanakan pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk mengatasi kekurangan siswa.
3.      Penempatan kelas. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai salah satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria untuk memasuki kelas akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
4.      Pemilihan kompetisi siswa. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam lomba-lomba sains. Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan dapat mengikuti lomba sains dengan baik.

Ruang lingkup penilaian proses dan hasil belajar adalah sebagai berikut.
1.   Sikap mencakup kebiasaan, motivasi, minat, bakat yang meliputi bagaimana sikap peserta didik terhadap guru,  mata pelajaran, orang tua, suasana sekolah, lingkungan, metode, media dan penilaian.
2. Pengetahuan dan Pemahaman peseta didik sudah mengetahui dan memahami tugas-tugasnya sebagai warga Negara, warga masyakat, warga sekolah, dan sebagainya
3. Kecerdasan meliputi apakah peserta didik samapi taraf tertentu sudah dapat memecahkan masalah-masaah yang di hadapi dalam pelajaran.
4.  Perkembangan jasmani meliputi apakah jasmani peserta didik sudah berkembang secara harmonis, apaka peserta didik sudah membiasakan diri hidup sehat
5. Keterampilan ini menjelaskan apakah peserta didik sudah terampil membaca, menulis dan menghitung, apakah peserta didik sudah terampil menggambar atau olahraga.

Sudjana (2005) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:
1.  Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai mata pelajaran yang ditempuhnya.
2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa efektifannya mampu mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan pendidikan.
3.   Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem pelaksanaannya.
4.   Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain :
1. Dikembangkan dengan mengacu pada 3 aspek: pengetahuan, keterampilam dan sikap.
2. Menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar.
3. Mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif). Tujuan dan fungsi formatif: keputusan aspek apa yang masih harus diperbaiki dan aspek apa yang dianggap sudah memenuhi dari indikator penilaian. Tujuan dan fungsi sumatif: keputusan apakah siswa dianggap mampu menguasai kualitas yang dikehendaki oleh tujuan pembelajaran.
4. Mengacu kepada prinsip diferensiasi.
5. Tidak bersifat diskriminat.

Aspek Penilaian
Tujuan IPA adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA, menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga ranah dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
3. Penilaiankarakter dan sikap (sikap ilmiah)
Penjelasan ketiga jenis penilaian tersebut di atas adalah sebagai berikut:     
1. Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA Penilaian pengetahuan IPA merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaanpeserta didik terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan pemahamannya tersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, dan menanggapi isu-isu lokal dan global.
2. Penilaian Keterampilan Proses Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses. Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilan proses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di samping itu, peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan percobaan sederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan hasil belajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi, tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses ilmiah, berikut adalah enam keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk peserta didik
 3 a. Observasi Penilaian keterampilan melakukan observasi dinilai pada saat melakukan observasi dalam rangka memperoleh data hasil penginderaan terhadap objek dan fenomena alam menggunakan panca indera. Informasi yang diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu, pertanyaan, interpretasi, dan investigasi.
   b. Komunikasi Keterampilan berkomunikasi secara ilmiah menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan grafik, carta, peta, simbol, diangram, rumus matematis, dan demonstrasi visual, baik secara tertulis maupun lisan.
   c. Klasifikasi Keterampilan melakukan klasifikasi diperlukan untuk mengelompokkan berbagai objek untuk mempermudah mempelajarinya, berdasarkan persamaan, perbedaan, dan saling keterkaitan obyek.
  d. Pengukuran Keterampilan melakukan pengukuran menggunakan alat ukur standar untuk melakukan observasi secara kuantitatif, membandingkan, dan mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikannya secara efektif. Alat pengukuran meliputi penggaris, meteran, neraca, gelas ukur, termometer, pH meter, Higrometer, dan sebagainya.
  e. Inferensi Keterampilan melakukan interpretasi dan menjelaskan kejadian di sekitar kita. Kemampuan ini dibutuhkan antara lain untuk menyusun hipotesis. Interpretasi menghubungkan pengalaman lampau dengan apa yang sedang dilihat.
   f.  Prediksi Keterampilan melakukan prediksi ditentukan oleh observasi yang teliti dan inferensi untuk memprediksi apa yang akan terjadi untuk menentukan reaksi yang tepat terhadap lingkungan.
  g. Percobaan Sederhana Keterampilan melakukan percobaan diawali dengan kemampuan menyusun pertanyaan, mengidentifikasi variabel, mengemukakan hipotesis, mengidentifikasi variabel kontrol, membuat desain percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan data, dan interpretasi data.
            Dari uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu dijadikan bahan diskusi:
1.      Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses penilaian?
2.      Kendala apa yang sering dihadapi seorang guru dalam proses penilaian siswa di kelas?
3.   Menurut pendapat anda, bagaimana tentang proses penilaian di kurikulum 2013 yang menuntut banyak jenis-jenis penilaian yang perlu kita lakukan?


REFERENSI

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.


Model Pembelajaran Quantum

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM        Pada hakikatnya , pembelajaran adalah usaha sadar bagi seorang guru untuk membelajarkan peserta did...