MODEL PEMBELAJARAN
QUANTUM
Pada hakikatnya, pembelajaran adalah
usaha sadar bagi seorang guru untuk membelajarkan peserta didiknya (mengarahkan
interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan
yang diharapkan (Trianto, 2012).Untuk mengatasi problematika dalam
pelaksanaan pembelajaran, tentu diperlukan model-model
pembelajaran. Selanjutnya Trianto (2012) menjelaskan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar untuk merencanakan
aktivitas pembelajaran.
Model
pembelajaran quantum menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses pembelajaran
lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah. Dengan
menggunakan model pembelajaran quantum kita dapat menggabungkan
keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pembelajaran yang
akan meningkatkan hasil belajar peserta didik (Deporter, 2010).
2.1 Pengertian Model
Pembelajaran Quantum
Istilah
“Quantum” dapat diartikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya
(Deporter,2010). Pembelajaran Quantum merupakan istilah terjemahan dari bahasa
asing yaitu quantum learning. Menurut Deporter, dkk (2010), quantum
learning adalah penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di
sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk
belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini
mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat
bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain.
Quantum
Learning adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh
proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat
belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Deporter, dkk,
2010).Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model
pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga
menekankan pada tingkat kesenangan peserta didik.
Pembelajaran
quantum merupakan model pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala
dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala
keterkaitan, perbedaan, interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan
momentum untuk belajar. Menurut Deporter, ddk (2010), pembelajaran quantum
hampir sama dengan sebuah simfoni yang di dalamnya banyak unsur yang menjadi
faktor pengalaman yang mewarnai hasil akhir yang indah.
Tujuan
pembelajaran quantum adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan
berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Menurut
Shoimin, (2014), di dalam pembelajaran quantum dikenal adanya Kerangka
rancangan belajar Quantum
Teaching yang dikenal sebagai TANDUR, diantaranya
1. Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat
siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini, guru
berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar.
2. Alami
Alami merupakan tahap
ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti
semua siswa.
3. Namai
Tahap namai merupakan
tahap memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp
pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan
guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati.
4. Demonstrasikan
Tahap demontrasi
memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang
lain dan ke dalam kehidupan mereka.
5. Ulangi
Pengulangan akan
memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin
sering dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam..
6. Rayakan
Rayakan merupakan wujud
pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam
ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi
bersama.
2.2
Azas Utama Model Pembelajaran
Quantum
Menurut
Deporter (2010), azas utama pembelajaran quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan
Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud dari konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia
Mereka” adalah bahwa pentingnya memasuki dunia peserta
didik sebagai langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Memasuki
dunia peserta didik dapat dilakukan dengan membangun jembatan autentik memasuki
kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka. Caranya yaitu
dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau
perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik,
musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat
menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam
konteks inilah materi pembelajaran dipaparkan, misalnya: kosa kata baru, model
mental, rumus, dan lain-lain.
2.3
Karakteristik Model Pembelajaran Quantum
Budiman (2013)
menuliskan beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok Quantum
Learning sebagai
berikut:
1. Berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun
serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan
tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan,
dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika
kuantum.
2. Lebih bersifat humanistis,
manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan
pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat
berkembang secara maksimal atau optimal.
3. Lebih bersifat konstruktivistis,
nuansa konstruktivisme dalam Quantum Learning relatif kuat. Malah
dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning merupakan salah
satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial.
4. Berupaya
memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor
potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental)
sebagai konteks pembelajaran.
5. Memusatkan
perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi
makna.
6. Sangat
menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di
sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum.
7. Sangat
menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan
atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana
nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan
dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan.
8. Quantum
Learning sangat menekankan kebermaknaan dan
kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan
tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak
tercapai.
9. Memiliki
model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran
meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang
menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
10. Memusatkan perhatian pada
pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal
atau material.
11. Menempatkan nilai dan
keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan
tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna.
12. Mengutamakan
keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan
kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi.
13. Mengintegrasikan totalitas
tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan
pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih
optimal.
2.4
Prinsip Model Pembelajaran Quantum
Prinsip utama pembelajaran
kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita
(Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka
(Pembelajar). Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses
pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni. Dalam Shoimin (2014) prinsip-prinsip
yang digunakan dalam pembelajaran Quantum ada 5 macam:
1. Segalanya berbicara
Segala hal baik itu
dari lingkungan kelas/sekolah hingga bahasa tubuh guru maupun siswa, lembar kerja
yang dibagikan kepada
siswa hingga rancangan pembelajaran, semua mengirim pesan tentang belajar dan mencerminkan pembelajaran yang
dilaksanakan. Cara guru dalam bersikap pada setiap siswa ternyata juga
mempengaruhi minat belajar siswa, siswa akan cenderung malas untuk mengikuti
pelajaran karena secara emosional mereka merasa diperlakukan berbeda-beda oleh
guru mereka. Untuk meredam hal tersebut diharapkan pada guru untuk senantiasa
bersikap sama pada semua siswa, karena tentunya semua siswa memiliki kecerdasan
yang berbeda-beda. Guru hendaknya juga harus mampu memahami emosi setiap
siswanya.
2. Segalanya bertujuan
Hal ini mengandung arti bahwa semua
upaya yang dilakukan oleh guru dalam menggubah dan mengelola
kelas mempunyai tujuan, yaitu agar siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai
prestasi yang tertinggi.
3. Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar paling
efektif terjadi ketika siswa telah mengalami dan memperoleh informasi terlebih dahulu apa
yang akan dipelajarai sebelum mereka memperoleh
nama untuk apa yang mereka pelajari.
4. Akui setiap usaha
Setiap
mengambil langkah
belajar, siswa perlu mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan
diri mereka baik
itu berupa pujian atas usaha mereka ataupun ungkapan penyemangat.
5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan
Perayaan memberikan
umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan
belajar. Segala
sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan
keberhasilannya. Merayakan kerja keras siswa dalam belajar akan mendorong siswa
memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali peoses belajar mereka sendiri.
2.5.
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum
Langkah-langkah dari
pembelajaran Quantum:
1. Pengkondisian awal
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan
mental siswa mengenai model pembelajaran kuantum yang menuntut keterlibatan
aktif siswa.
2. Penyusunan rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan dengan
tahap persiapan dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap
ini adalah penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama
proses belajar mengajar, dan penyusunan evaluasi.
3. Pelaksanaan metode pembelajaran kuantum
Tahap ini merupakan inti penerapan model
pembelajaran kuantum. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R: penumbuhan
minat, pemberian pengalaman umum, penamaan atau penyajian materi, demonstrasi
tentang pemerolehan pengetahuan oleh siswa, pengulangan yang dilakukan oleh
siswa, perayaan atas usaha siswa.
1) Penumbuhan minat (T= Tumbuhkan minat)
2) Pemberian pengalaman umum (A= Alami)
3) Penamaan atau penyajian materi
(N= Namai)
4) Demonstrasi pengetahuan siswa (D = Demonstrasi)
5) Pengulangan yang dilakukan oleh siswa (U = Ulangi)
6) Perayaan atas usaha siswa (R = Rayakan)
4. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses
dan produk untuk melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan.
Langkah- langkah pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan
dilaksanakan dengan tahap- tahap:
1). Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan
diajarkan
2). Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan
kelas dengan metode ceramah, di sini
siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting
di buku tulis.
3). Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada
siswa tentang materi..
4). Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan
siswa dan mengambil kesimpulan.
6). Guru mengadakan
evaluasi.
2.6.Kelebihan dan
Kekurangan Model Pembelajaran Quantum
Shoimin (2014), menuliskan kelebihan dan kekurangan dari model
quantum yaitu:
Kelebihan model quantum:
1. Dapat
membimbing peserta didik kearah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran
yang sama.
2. Karena
lebih melibatkan siswa, saat proses pembelajaran perhatian murid dapat
dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang
penting itu dapat diamati secara teliti.
3. Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan
keterangan-keterangan yang banyak.
4. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyelesuaikan antar teori
dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
6. Karena membutuhkan kreatifitas dari seorang guru untuk merangsang
keinginan bawaan siswa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
7. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti
oleh siswa.
Kekurangan model quantum:
1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil
waktu atau jam pelajaran lain.
2. Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak
selalu tersedia dengan baik.
3. Karena adanya perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa,
baik berupa tepuk tangan, jentikan jari dan nyanyian dapat mengganggu kelas
lain.
4. Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5. Memerlukan keterampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang
itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
6. Diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang
ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak
tercapai sebagaimana mestinya.
2.7.Penerapan/Efektivitas
Model Pembelajaran Quantum dalam Pembelajaran Sains
Terdapat strategi pembelajaran quantum,
sebelum mengetahui strategi pembelajaran Quantum Learning,
siswa harus bisa menentukan gaya belajarnya sendiri. Gaya belajar seseorang
adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur, serta
mengolah informasi. Terdapat tiga gaya belajar atau yang disebut dengan
modalitas belajar, yaitu sebagai berikut:
1. Visual
Gaya belajar visual adalah
belajar dengan cara melihat. Siswa dengan gaya belajar visual akan lebih mudah
menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media visual seperti
poster, gambar-gambar, video, dan lain sebagainya.
2. Auditorial
Gaya belajar auditorial
adalah belajar dengan cara mendengar. Siswa dengan gaya belajar auditorial akan
lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media
audio seperti mendengarkan cerita, mendengarkan kaset, ceramah, diskusi, dan
lain sebagainya.
3. Kinestetik
Gaya belajar kinestetik
adalah belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Siswa dengan gaya
belajar kinestetik akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru
melalui praktek-praktek atau praktikum.
Dari uraian di atas, ada beberapa
hal yang dapat di jadikan bahan diskusi:
- Apakah semua
guru mampu menerapkan model pembelajaran quantum?
- Bagaimana cara penerapan model pembelajaran quantum
pada proses pembelajaran?
- Apakah model pembelajaran quantum cukup efektif dalam
menjembatani proses e pembelajaran Sains agar berjalan dengan maksimal?
REFERENSI
Deporter,
B,; Reardon,M,; Singer-Nauri, S. 2010. Quantum Teaching: mempraktikkan
quantum learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa.
Shoimin, A. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta :
Ar-Ruzz Media
Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.
Triyani. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran
TANDUR dalam meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa MTs YAPI Pakem Sleman
Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
saya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang guru mampu menerapkan model pembelajaran quantum tergantung dengan kemampuan gurunya sendiri, apakah gurunya sudah berpengalaman dalam menggunakan model sehingga model yang akan digunakan bisa dilaksanakan dengan efektif.
BalasHapussaya sangat setuju dengan pendapat Rahayu Seay, guru yang mampu menerapkan model Quantum adalah guru yang telah erbiasa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintaks pembelajaran. terlebih lagi dalam pembelajaran Quantum ini banyak hal yang perlu disiapkan oleh guru. guru juga harus terampil dalam merencanakan dan melaksanakan model tersebut
HapusSaya setuju dengan ulasan saudara.
HapusSetuju dengan apa yang di paparkan sdri rahayu dan kak novrina. Artikel ini jg sangat menginspirasi sehingga dpaat dicoba untuk diterapkan di kelas
Hapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, dimana saudari reny menanyakan bagaimana cara menerapi proses pembelajaran quantum.
BalasHapusmenurut saya cara tenaga pengajar menerapi model pembelajaran quantum ialah :
1). Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan
2). Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
3). Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi..
4). Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan siswa dan mengambil kesimpulan.
6). Guru mengadakan evaluasi.
Salam hangat sdri reni,sedikit ulasan dari saya untuk soal no 1.saya rasa tidak semua guru menerapkan model quantum karena sesuai kemampuan yang dimiliki,sarana dan prasarana yang ada disekolah.tidak semua guru paham,kreatif serta inovatif untuk menerapkan model pembelajaran tsb.
BalasHapusSalam hangat sdri reni,sedikit ulasan dari saya untuk soal no 1.saya rasa tidak semua guru menerapkan model quantum karena sesuai kemampuan yang dimiliki,sarana dan prasarana yang ada disekolah.tidak semua guru paham,kreatif serta inovatif untuk menerapkan model pembelajaran tsb.
BalasHapus
BalasHapusQuantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat
Menyrut saya tidak semua guru bisa menerapkan model quantum, apalgi guru yg tidak suka anak kecil